Sunday, May 05, 2013

Cerpen - Long Distance Relationship

Yak, saudara-saudara sekalian para pembaca blog gue yang kudet ini (kurang update) apa kabar? Mana suaranyaaa???
Wkwk, disangka lagi nonton konser kali ah. Btw, udah cukup lama juga sejak gue terakhir kali ngepost disini ya. Ckck, yasudah lah, maafkan kekhilafanku ini...
Tapi sekarang gue bakal ngepost kok. Yah, seperti judul yang terpampang diatas. Ini cuma cerpen doang. Judulnya juga jelas kan? Iya, ini tentang LDR-an... Cuma ya... Gitu deh. Baca aja yuk dari pada penasaran...
Oh iya, kalau suka cerita-cerita di blog ini, boleh kok kalian share atau copas, tapi orang yang baik itu yang nggak suka plagiat ya. Jadi, untuk ngehargain karya masing2, tolong ya dicantumin sumbernya :-)

Oke, here it is readers.
Hope you'll enjoy it.



The Long Distance Relationship


I'm so tired of being here. Suppresed by all my childish fears. And if you have to leave. I wish that you just leave. Because your presence still lingers here. And it won't leave me alone.

Jakarta pada bulan Januari itu berarti basah. Yah, maksudku saat ini sedang musim hujan. Aku tidak pernah menyukai musim ini. Karena hujan membawa banyak kenangan buruk untukku. Karena hujan terpaksa menjebakku pada tempat yang tidak ingin aku tinggali hanya untuk sekedar meneduh. Aku tidak suka kehujanan. Dan aku lebih tidak suka lagi disuruh menunggu hujan berhenti. Aku benci menunggu. Dan hujan, selalu membuatku menunggu.

Aku duduk termenung menatap laptop di depanku. Kemudian sebuah gambar dengan wajah menenangkan muncul di hadapanku.

Leo. Ah, pria itu. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan bagaimana caranya memelukku dari belakang, menggenggam tanganku, membelai rambutku, menatap mataku. Semuanya. Aku merindukan semua darinya. Tapi saat ini aku hanya bisa menatap wajahnya sambil mendengar suaranya. Dia sudah berada jauh.

“Git, lagi apa?” Leo tersenyum manis sambil menatapku.

“Aku baru aja selesai ngelanjutin nulis novel, terus kangen kamu.” Aku ikut tersenyum melihat senyumannya di layar laptop.

“Oh gitu. Eh, sekarang disana hujan nggak? Disini hujan, lihat deh.” Leo menunjukkan jendela dibelakangnya. Aku tersenyum masam dan melihat ke arah jendela kamarku yang juga sedang hujan.

“Hujan. Sangat deras.” Jawabku lemah.

“Hmm, disini dingin loh Git. Apa lagi nggak ada kamu. Bener-bener makin dingin jadinya. Mau peluk kamu rasanya.” Leo tersenyum manis sekali. Aku tidak tahan melihatnya. Aku bisa menangis saat ini juga rasanya saking merindukannya.

“Aku juga mau peluk kamu.” Setetes air mataku jatuh saat mengatakannya. Aku tidak sanggup lagi melihat wajahnya, jadi aku menutup laptop di hadapanku. Kemudian berjalan lungai ke tempat tidur dan mulai meringkuk menangis.

Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya. Yang aku butuhkan adalah dia disampingku mengelus lembut rambutku. Bukan kecanggihan tekhnologi yang hanya membawa wajah dan suaranya dihadapanku seperti tadi. Aku menangis sampai tertidur dan terbangun keesokan paginya.

Pagi ini cukup cerah. Sepertinya hujan semalam tidak bertahan sampai pagi ini. Matahari bersinar dengan lantang dan burung-burung berkicau riang. Angin hangat berhembus masuk melalui jendela kamarku yang baru saja aku buka. Sinar matahari merayap masuk ke kamarku.

Aku selalu menyukai cerahnya matahari. Hangatnya pagi seperti ini. Kicauan riang burung-burung pipit yang hanya bisa aku dengar saat cuaca cerah. Bukan hujan. Aku benci hujan.

Tapi tidak dengan pacarku, Leo. Dia menyukai hujan. Sangat terobsesi dengan hujan malah. Dulu dia senang sekali mengajakku memandangi hujan. Entah di balkon kamarnya, atau balkon kamarku, atau malah sambil bermain hujan-hujanan di taman. Agak konyol memang. Apalagi sesudahnya kami berdua sama-sama terkena flu. Tapi ya mungkin kalau dilihat dari segi pacaran romantis juga sih. Atau norak? Agak mirip film India gitu ya? Tapi percaya padaku, Leo bukan salah satu penggemar film India. Dia hanya terlalu terobsesi dengan hujan.

Aku masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahku kemudian menyikat gigiku. Sambil menyikat gigi aku melihat jam dinding. Jam 9 pagi, Leo suka makan eskrim untuk sarapan biasanya. Yah, dia memang agak kurang normal sepertinya. Kalau orang lain sarapan dengan yang hangat-hangat, pria yang sangat aku cintai itu malah senang dengan yang dingin-dingin. Ah aku benar-benar tidak mengerti apa enaknya eskrim untuk sarapan. Aku selalu dibuat mulas kalau menjadikannya sarapan. Tapi beberapa waktu terakhir aku memang sarapan dengan eskrim dan mulai terbiasa sepertinya.

Setelah menggosok gigi aku mengambil laptopku dan berjalan menuruni tangga rumahku kemudian keluar ke halaman belakang menaruh laptop lalu masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil persediaan eskrimku.

Aku kembali lagi dengan membawa satu cone dengan dua scoop eskrim rasa vanilla dan cokelat diatasnya. Sambil menjilati eskrim, aku membuka laptopku dan beberapa saat kemudian muncul wajah Leo yang tersenyum dengan sangat semangat.

“Hai, jam berapa disana?” tanya Leo sambil menjilati eskrim cone di tangannya.

“Jam 9 pagi. Aku sarapan pake eskrim kayak kebiasaan kamu nih. Dan aku belum makan apa-apa loh.” kataku tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari laptop.

“Oh kamu lagi makan eskrim juga? Pasti rasa vanilla cokelat. Aku bener kan?” Leo mengedipkan matanya sambil tersenyum lucu.

“Iya, bener kok.” Aku menjawab sambil menjilat eskrim di tanganku. Sambil agak menggigil karena angin yang mulai berubah dingin. Sepertinya ingin hujan lagi. Awan hitam juga sudah mulai menampakkan diri. Tapi aku masih tetap duduk di ayunan memandangi laptopku dengan eskrim di tangan.

“Mau main tebak-tebakan nggak?” Kalimat Leo kembali membuatku memusatkan perhatian padanya, tidak lagi pada langit yang mulai mendung.

“Boleh. Ayo, apa?” jawabku semangat.

“Makhluk apa di dunia ini yang forever alone, nggak pernah punya pasangan? Ayo, tau nggak?” Leo mendekatkan wajahnya ke kamera.

Aku menggumam sambil tetap menjilati eskrimku. “Umm, nyerah deh nggak tau.”

“Jawabannya dia.” Leo menyilangkan tangannya di depan dada sambil tersenyum misterius menatapku.

“Maksudnya?” Aku bertanya lagi.

“Ya soalnya aku pasangannya kan sama kamu. Jadi dia nggak punya pasangan. Kan yang ada cuma aku sama kamu.” Leo menekankan kalimatnya pada kata 'aku' dan 'kamu'.

“Gombal.” Aku tersenyum kecil.

“Gombal ya? Engga apa-apa lah. Gantian sekarang kamu.” Leo menantangku.

Belum sempat aku menjawabnya tiba-tiba segerombol titik air jatuh. Aku panik dan segera menutup laptopku kemudian berlari ke dalam rumah. Rambut dan badanku basah kuyup. Untungnya laptopku tidak terlalu basah karena aku peluk.

Terpaksa aku harus mandi kalau tidak mau masuk angin gara-gara hujan tiba-tiba tadi. Ah, aku tidak salah kan membenci hujan? Cuaca satu itu memang perusak suasana.

*****

These wounds won't seem to heal. This pain is just too real. There's just too much that time cannot erase. When you cried I'd wipe away all of your tears. When you'd scream I'd fight away all of your fears. And I've held your hand through all of these years. But you still have all of me.

Malam ini ada pertandingan klub bola favoritnya. Klub dengan sebutan the blues. Aku sudah duduk di depan televisi sejak setengah jam yang lalu untuk menunggu pertandingan itu. Rencananya malam ini aku akan menemaninya menonton klub bola satu itu. Selain terobsesi dengan hujan, lelaki satu itu juga memang terobsesi dengan permainan satu ini. Dan untuk tim yang dia dukung, ya meskipun bukan klub terbaik di Inggris, setidaknya permainannya tidak buruk. Jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan obsesinya terhadap hal-hal itu. Aku justru ikut larut dalam obsesinya dan diam-diam ikut menyukai sepak bola dan klub favoritnya. Meskipun hal itu tidak terjadi juga padaku tentang obsesinya yang lain seperti hujan.

Aku memandang laptopku, kemudian setelah menekan sebuah tombol wajahnya muncul dengan senyuman mengembang seperti biasanya. Kali ini dia berada di sebuah kafe. Sepertinya dia ikut nobar bersama komunitas fans Chelsea. Aku memperhatikan wajahnya yang tirus dengan alis tebal, mata bulat besar kecokelatan, dan hidung mancung lancip serta tulang rahang yang dengan tegas membentuk wajahnya. Dia mirip sekali dengan orang-orang latin walaupun darah jawanya sangat kental. Sebuah headphone bertengger di atas kepalanya. Kemudian dia berbicara melalui mic kecil di headphonenya dan menyadarkanku dari keterpesonaan akan wajahnya.

“Git, sebentar lagi Chelsea mulai. Aku di Kafe nobar bareng temen-temen yang lain nih. Kamu nonton juga nggak di sana?” Leo berbicara tanpa berhenti tersenyum sedikitpun.

“Nonton. Ini lagi nungguin.” Aku tersenyum lembut menatapnya.

“Hmm, komentatornya lama nih ngomong mulu. Kamu mau nemenin aku nonton sampai habis kan malam ini?” Leo bertanya lagi.

“Iya sayang. Asal aku jangan dicuekin aja.” Aku mengatakannya sambil sedikit mengerucutkan bibir berpura-pura ngambek.

“Ya kalau aku nyuekin kamu sedikit pas lagi nonton wajar lah. Namanya juga nonton bola. Kan kamu tau gimana aku terobsesinya sama klub satu itu.” Leo berusaha membujukku untuk mengerti.

Aku tersenyum, “Iya ngerti kok ngerti. Chelsea pacar pertamamu kan? Aku itu yang kedua.”

Leo menggeleng kuat, lalu menyorotkan matanya yang tajam, “Walaupun aku benar-benar terobsesi sama hal-hal lain. Kamu selalu tetap jadi prioritas utamaku. Kamu sadar nggak, kamu itu obsesiku yang paling besar.” Leo menyorotkan mata penuh kesungguhannya padaku.

Aku luluh, pipiku merona setelah mendengar hal itu. Senyumku mengembang bebas.

“Kamu, dan segala sesuatu tentang kamu akan selalu mengobsesi aku. Selalu membuat aku hampir gila. Kamu itu mirip dengan obsesiku yang lain seperti hujan. Kenapa aku menyukai hujan. Ya, kamu pasti tau alasannya. Karena hujan selalu bisa menyembunyikan kesedihanku. Aku bebas menangis di bawah hujan tanpa takut orang lain akan melihatku menangis. Dan hujan selalu membawa pelangi, sama seperti kamu dikehidupanku. Kamu menyembunyikan kesedihanku dan menutupinya dengan semua senyuman bahagia karena kamu ada disisiku. Dan kamu menerbitkan pelangi di hidupku dan membuatnya lebih berwarna. Kamu adalah hujan terindahku.” Leo melanjutkan kalimatnya dengan panjang lebar.

Aku hanya mampu tersenyum menatapnya, tidak sanggup membalas kalimatnya.

“Hei itu pertandingannya mulai.” Kata Leo antusias.

Pertandingan yang aku tonton kali ini bagiku adalah pertandingan paling buruk. Saat half time, klub bola yang aku dan Leo dukung memang berhasil membuat satu gol. Namun saat babak kedua dimulai lapangan terkena hujan deras, para pemain beberapa kali terlihatjatuh saat membawa bola karena licinnya lapangan. Lalu saat menyerang tim lawan, tim kesayangan Leo itu mendapatkan serangan balik dan kehilangan satu angka. Tim lawan berhasil membobol pertahanan mereka. Aku mendesah kesal. Pertandingan masih belum berakhir, skor yang imbang membuat kedua kesebelasan itu makin gencar melakukan serangan. Tapi tidak lama kemudian tim lawan berhasil membobol gawang tim dukungan Leo itu lagi dan mendapat skor unggul. Lagi-lagi hujan mengacaukan sesuatu.

Aku mendesah bosan, kemudian mengalihkan pandanganku ke laptop melihat Leo yang serius dengan tontonannya. Aku melambai-lambaikan tanganku sambil memanggil Leo beberapa kali. Baru saat aku memanggilnya ke-empat kali dia menoleh.

“Maaf ya, aku keasyikan nontonnya.” Leo meminta maaf sambil meminum es teh dengan sedotan.

“Yah, udah biasa sih sebenernya diginiin kamu. Jadi nggak apa-apa lah.” Aku mengangguk kecil.

Leo mengangguk sambil tersenyum-senyum memandangku, “Kamu emang pacarku yang paling pengertian.”

“Regita, tidur sudah malam.” Terdengar suara Mamaku yang berteriak dari luar kamar.

Aku mendesah kecil lalu memandang laptop, “Leo sudah dulu. Aku nggak bisa nemenin kamu nonton sampai habis. Mama nyuruh aku tidur, bye.” Aku menekan tombol exit sebelum dia sempat menjawab kalimatku. Tanpa mematikan laptop, aku menutupnya kemudian menuju tempat tidur dan membanting diri di atas kasur. Tidak lama kemudian aku terlelap.

*****

You used to captivate me by your resonating light. But now I'm bound bye the life you left behind. Your face, it haunts my once pleasant dreams. Your voice it chased away all of the sanity in me.

Malam ini aku akan bermain kembang api. Dulu aku dan Leo suka sekali bermain kembang api bersama di halaman belakang rumahku. Sekarang aku akan bermain kembang api dengannya lagi. Yah, mungkin aku sendiri. Tapi dia akan menemaniku melalui gambar dan suaranya bermain kembang api.

Kalau Leo bisa terobsesi pada hujan, aku juga bisa terobsesi pada sesuatu. Kembang api. Aku suka melihat mereka bercahaya di gelap malam. Aku suka cara mereka meledak-meledak. Aku suka suara mereka. Aku suka warna mereka yang bermacam-macam. Aku suka pada perasaan tenang saat melihat cahaya kembang api.

“Udah siapin kembang apinya?” Tanya Leo sambil menatapku dari balik layar.

“Udah dong,” Aku mengacungkan sekotak kembang api.

“Ayo main, hati-hati ya nyalainnya. Aku juga disini nyalain nih.” Leo menunjukkan tangannya yang memegang kembang api dan korek yang mulai menyala. Aku juga ikut menyalakannya.

Aku memegang kembang api sambil tetap memerhatikan Leo di layar laptopku yang juga sedang memegang kembang api. Dia kelihatan lebih kurus, mukanya pucat, beberapa kali aku melihat jarinya agak gemetar saat memegang kembang api. Aku benci melihatnya seperti ini. Bukan karena ketampanannya yang berkurang. Tidak, ketampanannya tidak akan pernah berkurang. Hanya saja, aku takut Leo merasakan sesuatu yang buruk. Dan aku tidak suka apapun yang buruk menimpa Leo.

“Kalau aku disana, aku pasti nggak akan ngebiarin kamu nyalain kembang api sendiri deh. Aku takut kamu kena api.” Kata Leo sambil menyundut kembang apinya yang ketiga.

“Aku baik-baik aja kok, Leo. Gak usah lebay gitu ah.” Kataku menenangkan.

“Aku tau kok kamu gadis kuat yang bisa jaga diri sendiri. Tapi, aku selalu berharap kalau aku bisa selalu ada disisi kamu. Menjaga kamu. Itu kan tugas seorang laki-laki untuk orang yang dia cintai? Sayangnya, aku ternyata nggak bisa selalu berada disisi kamu. Dan aku terlalu lemah untuk selalu menjaga kamu. Maafin aku yang nggak bisa selalu berada disisi kamu.” Leo menatapku dengan pandangan bersalah. Mendadak perasaanku terasa seperti diremas kuat. Sakit sekali.

“Kamu akan selalu disini Leo.” Balasku sambil memegang dada.

Tiba-tiba terlihat dari layar kembang api yang Leo pegang mati. Dan terlihat titik-titik air.

“Git, udah dulu. Hujan nih. Nanti kapan-kapan kita main kembang api sama-sama lagi ya! Bye!”
Leo melambaikan tangannya lalu hilang dari layar laptopku. Aku menutup laptopku sambil mendesah kecil lalu masuk ke dalam rumah.

Aku benar-benar membenci hujan. Hujan selalu mengakhiri segala hal yang membuatku bahagia. Ya, semuanya diakhiri oleh hujan. Semuanya. Tidak terkecuali Leo yang sangat memujanya.

Aku berjalan pelan kembali ke kamarku meninggalkan kembang api yang masih berantakan di halaman. Baru saja aku sampai di tangga kedua, suara hujan terdengar dari luar. Lagi, malam ini hujan lagi. Aku menghela napas kecil. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan sakit yang selalu tiba-tiba muncul saat aku mendengar suara hujan. Sesak di dadaku membuatku mempercepat langkah, hingga entah bagaimana aku sudah berada tepat di atas kasur sambil memeluk boneka teddy bear pemberian Leo sambil menangis tersedu. Lalu untuk yang kesekian kalinya, hujan di luar rumah selalu membuat kamarku hujan juga hingga mengantarku tidur.

Besoknya, aku terbangun dengan perasaan sesak yang masih sama seperti semalam. Apalagi ketika aku menengok ke arah jendela dan tampak kalau di luar hujan deras. Aku berusaha mengalihkan perhatianku dengan berjalan ke kamar mandi dan membasuh muka lalu menggosok gigiku. Setelah itu aku menyisir rambutku yang terurai hingga punggung. Wajahku terlihat agak lebih baik kali ini.

Aku mengambil laptop dan menyalakannya. Tidak lama kemudian wajah Leo sudah nampak di layar laptopku masih dengan senyum mengembang. Tapi Leo makin terihat pucat. Dadaku jadi makin terasa sakit karenanya.

“Gitaaa!!! Rumahku banjir nih.” kata Leo antusias sambil menunjukkan keadaan sekeliling.

Aku memperhatikannya sambil tersenyum kecil.

“Kok kamu nggak ngungsi?” Aku bertanya pelan.

“Karena kamarku di lantai dua, aku jadi nggak perlu ngungsi. Lagian cuma sebetis. Paling lama juga dua hari surut.” Kata Leo dengan tatapan lembut.

“Main banjir-banjiran seru loh! Coba kamu ada disini. Kita nangkep lele bareng-bareng Git, trus kamu yang masak deh. Eh iya lupa, kamu kan sama minyak goreng panas aja takut.” lanjut Leo sambil meledekku.

Aku tersenyum getir. Kemudian dengan nafas tercekat aku berusaha berbicara, “Aku janji akan belajar masak buat kamu. Asal kamu balik kesini sama aku lagi.” Setetes air mataku jatuh.

Bukannya menjawab kalimatku, Leo malah menyudahi pembicaraan, “Git, udah dulu ya. Dipanggil Mama.”

Aku hanya bisa menghela napas melihat layar laptopku yang berubah hitam. Dengan pelan aku menutup laptopku, lalu kembali berbaring di atas kasur. Rasanya aku ingin menemui Leo. Aku merindukannya. Benar-benar merindukannya. Lalu sebuah ingatan tentang masa lalu tiba-tiba terbersit dalam benakku hingga membuatku menggeleng kuat. Tidak. Hal itu bukan masa lalu. Hal itu hanya ada di dalam khayalanku. Leo tidak pergi untuk selamanya. Tidak kemarin, tidak hari ini, tidak besok, dan tidak untuk kapanpun.

*****

I'd love to walk away and pull myself out of the rain. But I can't leave without you. I'd love to live without the constant fear and endless doubt. But I can't live without you.

Aku mengenakan gaun terbaikku. Gaun polos berwarna putih bersih selutut. Roknya berampel lembut. Bahannya yang lemas, jatuh dengan sempurna di tubuhku. Aku selalu menyukai gaun ini. Gaun pemberian dari Leo ketika peringatan dua tahun jadian. Gaun yang sederhana. Tidak menunjukkan kemewahan, tapi menunjukkan sesuatu yang apa adanya. Sama seperti cintaku untuknya yang apa adanya. Aku yakin Leo juga begitu.

Aku mematut diri di depan cermin, kemudian melepaskan ikatan rambutku. Aku membiarkan rambutku jatuh hingga ke punggung lalu menyisirnya lembut. Setelah itu aku mengambil bedak dan mengusapkannya lembut ke muka hingga merata. Tidak lupa aku mengambil lipgloss dan mengoleskannya ke bibir tipis-tipis. Aku tidak suka make up yang berlebihan. Dan aku akui aku memang tidak pandai menggunakan make up. Lagi pula Leo selalu suka dengan penampilanku yang apa adanya. Dia mencintaiku karena aku adalah aku, bukan karena aku menggunakan make up.

Oh iya, hari ini aku berdandan rapih karena aku akan mengadakan candle light dinner dengan Leo. Dulu kami suka sekali melakukannya di taman belakang rumah Leo. Kali ini, aku akan melakukannya di halaman belakang rumahku, dan Leo di tempatnya.

Yah, seperti biasa. Leo menemaniku melalui kecanggihan tekhnologi yang sudah sangat memuakkan ini tapi tetap tidak bisa aku hilangkan.

Di halaman belakang aku sudah menghias meja bundar dengan dua kursi itu menjadi meja ala restoran-restoran bintang lima. Aku memberi taplak berwarna putih dengan bahan yang lembut, dan kursinya begitu juga dengan kursinya. Di atas meja aku menaruh tiga buah lilin beraroma terapi. Leo menyukai lilin semacam ini. Katanya, wangi dari lilin itu bisa menenangkan pikirannya.

Aku memang tidak bisa memasak, tapi untuk dinner kali ini aku mengupayakan yang terbaik. Ya, meskipun aku hanya harus memasak untuk diriku sendiri. Dengan dibantu pembantuku, aku membuat mashed potato dengan sirloin steak. Sedangkan untuk minumannya aku menyiapkan red wine. Walaupun aku tau Leo tidak pernah menyukai minuman beralkohol, termasuk wine. Tapi, untuk malam ini, sekali saja, aku ingin bebas menentukan apa yang akan kulakukan tanpa terkekang suka atau ketidak sukaan Leo. Malam ini harus menjadi spesial. Malam ini, peringatan empat tahun aku pacaran dengan Leo.

Angin malam berhembus lembut, malam ini cukup dingin. Apalagi model gaunku berlengan sangat pendek hanya untuk menutupi bahu sampai pangkal lengan. Aku menuangkan red wine ke dalam gelas berkaki satu di depanku lalu menyalakan laptop. Setelah mengklik beberapa pilihan, wajah dan suara Leo muncul.

“Malam cantik.” sapa Leo dengan suara beratnya.

Malam ini dia duduk di depan beberapa lilin dengan mengenakan kemeja putih berlengan panjang. Dia tampak makin kurus dalam balutan baju itu. Wajahnya... Sangat pucat. Melihatnya seperti itu mendadak membuatku kehilangan selera makan.

“Kamu apa kabar disana? Baik-baik aja kan?” Leo bertanya lembut.

Aku mengatur nafas, berusaha menenangkan diri. Berusaha membuat suaraku terdengar senormal mungkin. “Baik, kamu gimana?” Suaraku terdengar parau. Sial, bahkan suaraku sendiri mengkhianatiku.

“Aku pasti akan selalu baik-baik aja kok. Kamu nggak usah terlalu khawatir sama aku ya. Harusnya kamu khawatirin diri kamu sendiri sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.” Mata Leo memancarkan sinar kelembutan yang sangat aku rindukan.

Aku menegak seteguk wine dari gelasku lalu membalas kalimatnya, “Aku baik-baik aja kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirin dari aku.” Lalu aku menandaskan isi gelasku dan mengisinya dengan wine lagi.

“Aku cinta sama kamu. Tapi aku ingin kamu bahagia.” Mata yang selalu memancarkan kebahagiaan itu menatapku sedih.

“Aku sudah bahagia Leo, bahagia bersama kamu.” Aku mulai agak mabuk tapi aku tetap terus mengisi gelasku dengan wine lalu menandaskannya.

“Aku tau malam ini seharusnya jadi malam yang membahagiakan untuk kita. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain. Aku tidak bisa bertahan terlalu lama untuk terus melihat senyum kamu dan membuat kamu bahagia. Aku, harus pergi.” Leo berkata tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.

“Kemana? Kamu mau pergi nemuin aku disini? Kan kamu emang udah pergi Leo.” Aku berkata sambil tertawa karena mabuk.

“Kalau kamu menonton video ini, berarti aku sudah tidak ada lagi. Itu berarti operasi cangkok jantungku nggak berjalan dengan baik. Berarti aku sudah gagal, dan aku harus pergi. Maafin aku Regita, bukan maksud aku ninggalin kamu. Aku nggak bermaksud pergi tanpa memberitahu kamu apa yang sebenernya terjadi. Aku mengidap gagal jantung sejak aku kecil. Dan besok aku harus menjalankan operasi untuk tetap bertahan hidup. Atau aku mati pelan-pelan karena jantungku makin memburuk.” Leo terlihat menelan ludah dan mengusap perlahan wajahnya.

Aku yang mabuk berat menjawabnya sinis, “Kamu sudah mati saja masih bisa membuat aku menderita seperti ini ya Leo? Hebat.” Aku mengambil botol wine dan meneguknya dengan rakus.

Video itu tetap berjalan, dan suara Leo kembali terdengar, “Rangkaian video yang aku buat dalam satu disc ini untuk ngeganti waktu yang seharusnya aku habiskan bersama kamu tapi malah terbuang untuk aku menjalani pengobatan di Singapura. Aku emang ngerencanain ini. Aku takut saat aku pengobatan, kamu malah melupakan aku karena kehilangan komunikasi dengan aku. Sebagai manusia normal pasti aku ingin sembuh. Aku ingin bisa melihat hujan lagi bersama kamu, aku ingin main kembang api lagi sama kamu, aku ingin nonton bola lagi bareng kamu. Tapi, sebagai manusia biasa, aku juga harus mempersiapkan kemungkinan terburuk...” Leo diam sejenak.

“Ya, kalau aku udah nggak ada, seenggaknya ada pesan yang bisa aku sampein ke kamu.” Leo menelan ludah lagi lalu melanjutkan kalimatnya lagi.

“Aku mau, setelah aku pergi kamu jalanin kehidupan kamu seperti biasa. Kamu harus move on dari aku. Aku emang nggak mau kamu lupain. Tapi, kalau itu satu-satunya cara yang bisa membuat kamu bahagia lagi, aku ikhlas. Suatu saat kamu akan nemuin laki-laki yang akan menjaga kamu sepenuh hati dan nggak akan pernah pergi ninggalin kamu kayak aku.” Leo menghela napas sejenak  menutup matanya kemudian kembali membukanya dan menatap lembut.

“Aku yakin, ini yang terbaik. Walau kita udah nggak sama-sama lagi, aku akan selalu mencintai kamu. Dan kalau Tuhan mengizinkan, aku akan selalu memperhatikan dan menjaga kamu dari tempat aku yang baru. Aku pergi bukan untuk meninggalkan kamu dan berhenti mencintai kamu. Aku pergi untuk mengabadikan cinta kita yang akan selalu menghangatkan bersamaan dengan sinar matahari, turun sebagai air yang menyegarkan bagai hujan, dan menemani malam sebagai bintang. Aku cinta kamu Git.” Video itu berhenti, layar laptopku menghitam.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar seluruh kalimat puitis dari Leo. Dengan kondisi mabuk berat, aku meracau tidak jelas.

“Bullshit dasar Shakespeare gadungan! Berhenti buat kalimat lebay macem itu. Lo pikir gue nggak muak sama semua ini? Lo pikir nggak cape selama dua tahun gue cuma terus-terusan berpura-pura udah ngelupain lo, udah move on dari lo? Dan sekarang, saat gue nyoba buat menerima semuanya dan mengenang lo untuk yang terakhir kalinya, gue masih tetep nggak bisa!” Aku menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Alkohol benar-benar sukses membangkitkan alam bawah sadarku.

Aku kembali meracau bersamaan dengan titik-titik air yang meluncur dari langit, “Gue masih cinta sama lo, dan ternyata semua usaha gue buat ngelupain lo gagal. Terapi selama setahun lebih dibawah pengawasan psikiater paling terkenal tetep nggak bisa ngehapus lo. Bahkan waktu yang kata orang-orang akan menyembuhkan luka malah tertawa atas penderitaan gue yang masih hidup bersama masa lalu dan semua kenangan tentang lo. Coba, jelasin sama gue, gimana caranya gue move on, saat gue masih cinta banget sama lo?”

Hujan yang turun semakin deras. Aku sudah basah kuyup, begitu juga dengan laptopku.

“Heh! Jawab! Giliran ditanya, lo malah diem aja! Giliran nggak disuruh ngomong, lo malah bikin puisi kaya tadi!” Aku meracau sambil memukul-mukul laptopku yang sudah mati karena kehujanan.

“Kenapa nggak bisa jawab? Lo jahat Leo... Lo jahat...” Aku akhirnya menangis kencang, air mataku berbaur dengan air hujan. Tidak lama kemudian aku merasa mual dan aku muntah. Ini pasti akibat mabuk. Kepalaku makin lama makin terasa berat dan akhirnya semuanya gelap.

I've tried so hard to tell myself that you're gone. But though you're still with me, I've been alone all along.

*****

Aku bangun keesokan paginya dengan sakit kepala yang masih membekas. Mamaku duduk di sebelah tempatku berbaring dan dengan penuh kasih sayang dia mengelus lembut kepalaku.

“Sayang, udah baikan?” Tanyanya penuh perhatian.

“Udah Ma.” Aku menjawab seadanya. Tiba-tiba perasaan menusuk di dada itu muncul lagi. Alkohol semalam ternyata hanya menghentikan rasa sakitnya sementara.

“Kamu dulu pernah janji sama Mama untuk nggak mengenang Leo dengan cara seperti itu lagi kan? Ayo lah sayang, kamu sudah 20 tahun sekarang. Kamu sudah dewasa. Kamu harus bangkit dari keterpurukan. Ikhlaskan Leo yang sudah pergi sejak dua tahun lalu sayang. Kasihan dia pasti sedih ngeliat kamu kayak gini.” Mama terlihat tidak mampu menutupi kesedihannya.

Aku sadar Mama pasti kecewa putri tunggalnya ini tidak pernah bisa bangkit dari keterpurukan dan hidup normal tanpa berhalusinasi hidup bersama seseorang yang sudah lama pergi. Setetes air mata mama menetes di atas pergelangan tanganku. Ini pertama kalinya aku melihat Mama menangis. Dadaku makin terasa sakit.

Ini salah, aku harus memulai semuanya dari awal lagi. Biar saja masa lalu itu aku tutup, dan aku hanya akan membukanya nanti saat aku sudah siap dan bisa menjadikannya sebuah pelajaran hidup paling berharga.

“Aku ngerti Ma, maafin aku. Aku nggak akan ngulangin ini lagi.” Aku memeluk Mama erat.

“Kamu mau sarapan? Mama buatin kamu sarapan dulu ya.” Mama mengusap ujung kepalaku lalu melangkah keluar dari kamarku.

Setelah pintu kamarku ditutup rapat, aku berjalan lunglai ke jendela. Aku membuka tirai merah muda yang menutupinya. Aku disambut dengan hujan yang sepertinya mulai reda. Kali ini aku tersenyum. Tidak. Aku tidak lagi membenci hujan seperti sebelumnya. Aku sudah bisa ikhlas sekarang. Aku akan membiarkan Leo bahagia di atas sana dan mengirimkan cintanya untukku kedalam butiran-butiran hujan.

Aku tersenyum lembut menerawang langit. Hujan benar-benar reda, dan di kejauhan aku bisa melihat tujuh warna yang melengkung indah. Pelangi. Ya, sepertinya Leo bahagia aku sudah mengikhlaskannya, dan bagiku pelangi itu adalah senyumannya.

Lyrics: My Immortals - Evanescence

No comments:

Post a Comment